Tuesday 11 June 2013

Kisah Sebuah Kamar Bagian II



Aku tak peduli lagi saat dengan wajah tertutup engkau masuk
Aku pernah melihatmu sekilas suatu ketika kau mengintip di balik pintu
Tanganmu tak cukup lebut kurasa saat dengan sapu dan sulak kau mengelap meja
Saat warna-warni musim semi kau catkan kembali
Kau bahkan merobohkan sarang laba-laba yang mulai mengakrabiku
Siapa kau? Aku bertanya-tanya.
Kau membawa sekuntum bunga merona di tepi jendela
Kau memasang lukisan tentang pesisir pantai, puncak gunung dan saputan awan
Lalu kau menyertakan teman-temanmu untuk bertukar cerita dan tertawa
Kadang kau pun melonjak –lonjak gembira sendirian saja
Dan ketika kau terlalu terluka untuk bicara, dengan bantal yang basah karena air mata kau mengisahkannya semua pada dinding kamar.
Kitapun saling menjaga apa saja, kehangatan, kenyamanan, keindahan dan rahasia.
Waktu seolah berdetak sempurna untuk seterusnya.
Kau tak suka kemana-mana hanya berkutat pada buku
Atau bermain-main dengan gadis cilik tetangga dengan senggangnya
Atau sedikit merapikan penampilanku jadi tampat terjaga
Ah, kau…
Menepatiku dengan kisah yang brilian
Mengisi kekosonganku dengan mengesankan
Siapa kau? Aku bertanya-tanya.
Tapi aku lupa untuk menginginkan jawabanya
Ya sudahlah tak apa
Yang penting kita sudah seirama
Itu saja.

0 comments:

Post a Comment

Bookmarks

free counters