Saturday, 10 November 2012

Hp ku !!!


Jam 5:45
Pagi yang dingin mencekam menusuk-nusuk persendian tulang sehingga membuatku malas beranjak dari pembaringan. Maklum, pondokku daerah perbukitan. Tak ada hal yang istimewa pada hari ini. Karena hari ini hari libur yang membosankan.Tak ada aktivitas yang membuat ku semangat.
Aku masih berselimut dengan selimutku yang tebal, menahan dingin. “lebih baik selimutan aja daripada baca qur’an tapi kedinginan dan hari ini hari libur gak apalah sekali-kali” batinku.
Ketika aku tiduran dengan selimutku yang tebal, datang temanku setengah berlari, sepertinya ada yang mau dia segera bicarakan.
“berita pagi…tadi ba’da shubuh hpnya Aziz kesita, gara-gara anak takhasus”
“gimana ceritanya!” sahut temen sebelahnya
“denger-dengersih ba’da shubuh anak takhasus lagi ngumpul-ngumpul trus nyetel nasyid keras-keras..tiba-tiba datang ustad zaid dan kena”
“kok bisa anak takhasus yang make hpnya mudabir!”Tanya yang lainnya
“mana ku tau”
Ketika itu tak ada perasaan apa-apa, yang ada hanya aku ingin selimutan karena kedinginan.
Jam 7.00
Waktunya sarapan. Ketika di tengah jalan kebetulan aku berpapasan dengan ustad zaid yang memang mau mencariku.
“hpe antum mana”
“hpe yang mana”
“cepat… ana tau antum bawa hpe kepondok.”
Karena ketika itu belum fres sehingga tingkahku yang panic dan menunjukkan kalo aku membawa hpe dipondok. Maklum baru bangun tidur.
“ustad tau darimana ?”merasa heran
“pokoknya cepat bawa kesini hpenya, jangan memperpanjang masalah”
“trus kalo hpe ana di antum, bi dijamin kembali gak?”tanyaku
“ana serahkan kepihak yang berwajib” tegasnya.
“oh ustad jangan…hpe itu statusnya titip”
“gak usah banyak banyak alasan…antum jangan buat ana emosi sebelum ana main tangan”.
Aku pikir ustad ini bukan bagian kesantrian yang tugasnya menyita hpe santri, tpi kok ngotot mau nyita hpe ana. Kemungkinan besar ini gara-gara hpe yang kesita ba’da shubuh, dan nomerku ada di hpe itu.
Seandainya saja yang dia bukan ustad, berantem dulu, jika aku yang menang hpe statusnya masih milikku tapi kalo dia yang menang bolehlah hpnya diambil. Tapi dia ustadku…
Memang peraturan pondok jika hpe yang tersita hukumnya gak akan dikembalikan meskipun hp mahal sekalipun.
Dan akhirnya hpe ku telah di tangan ustad.
“ustad ntar ana mau make sebentar buat telpon umi ana” kataku setengah berteriak
Hanya anggukan kepala sebagai isyarat dan pergi begitu saja.
Jam 9.30
Aku  telpon umi untuk memberi tau kalo hpe ku ini sudah tersita. Kemudian terjadi kejadian sedikit membuatku lega.
aku kekamar ustadku tadi untuk ku kembalikan kerena itu statusnya sitaan. Tapi sudah 3 kali aku ucapkan salam seperti tidak ada tanda-tanda orang didalam.
Kedua kalinya aku kembali ucapkan salam agak keras plus ketukan pada pintunya. Ada jawaban tapi bukan ustad zaid, tapi adiknya.
“mana ustadnya”
“sedang tidur kak”jawaban polos
“Ooo begitu ya sudah, syukron” tidak jadi ku kembalikan karena merasa gak enak mengganggu ustad tidur.
Hp yang awalnya sudah di tangan ustad kini aku telah aku bawa kembali. Tapi hati ku mengatakan untuk mengembalikan hp ini nantinya setelah ustadnya bangun.
Tapi untuk yang ketiga kalinya aku mengembalikan hpku yang statusnya sitaan ternyata ustadnya sudah pergi ke kota.
Hah.. hpku gak jadi di sita. Mungkin saja ustadnya lupa. Karena aku masih khawatir sehingga aku kembali titipkan ketempat penitipan hp.
2 minggu kemudian
Hati agak tenang karena ustad itu tidak pernah lagi menanyakan persoalan hp ku yang pernah disitanya. Dan aku juga berusaha menghindari darinya. Aku lebih senang lagi karena ustad zaid sebentar lagi akan ke madinah untuk kuliah lagi, berarti hpeku gak di buru lagi.  Tapi takdir berkata lain, tepat seminggu sebelum keberangkatan ustad zaid ke madinah, ustad dari kesantrian memanggilku.
“ada apa denganku”batinku.
“ana dapat titipan dari ustad zaid, kalo hpe antum di sita, sekarang hpe antum mana?”
“sudah ana titipkan “
“ke siapa?”
“ustad Anas”
“ustad zaid bilang kalo hpe antum statusnya sitaan bukan hpe titipan”
“lho gak bisa!!!”bantahku
“gak… pokoknya ana hanya menyampaikan pesan dan hpe antum sekarang ana sita”dengan nada yang tegas.
Hanya pasrah. Karena ini ustadku apa boleh buat. Entah kenapa semenjak itu aku sadar klo mentaati peraturan pondok itu sangat penting selama peraturan itu tidak menyimpang. Walaupun membawa hpe bukan suatu yang tindakan criminal. Jadi taat itu penting. Pelajaran buat ana dan antum semua yang masih melanggar aturan pondok. Taat sama peraturan pondok insyaAllah gak ada ruginya.

NB: Tulisan ini didapat dari flasdisc yang tersita saat razia oleh Tim Kesantrian tanpa perubahan.

7 comments:

  1. ki jane crito nen pondok ndi mas brow???

    http://adamidriz.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. Pondok di karanganyar yg dikenal juga dengan sebutan Negri Dua Menara,,

    ReplyDelete
  3. Monggo mase.. disekacaaken.. #tau bener tau enggak tuh bahasa.. :D

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. walaaahh,,,
    pondoke dewek tahh..

    Btw Ust Zaid ki sopo? koq gak pernah denger yaa?

    ReplyDelete
  6. Ust, Yazid kui maksute... :D Ketoa santri anyaran ki sing nulis..

    ReplyDelete

Bookmarks

free counters